Kamis, 08 Desember 2016

PERBEDAAN TAUHID DAN SYIRIK




~ PERBEDAAN ‘TAUHID’ & ‘SYIRIK’. (Oleh Agus Mustofa)
Agama Islam adalah agama TAUHID ~ agama yang menyembah SATU Tuhan. Bukan agama SYIRIK yang menyembah BANYAK Tuhan. Jadi keislaman seseorang itu BERIMPIT dengan tauhid-tidaknya dia dalam menyembah Allah. Orang-orang yang menjadikan Allah sebagai TUJUAN satu-satunya seluruh aktivitas hidupnya, itulah yang disebut sebagai orang yang sudah ISLAM. Karena sudah bertauhid. Sedangkan, yang menjadikan hal-hal lain sebagai tujuan hidupnya, mereka belum bisa disebut ‘Islam’.
Ada orang yang baru Islam NAMA-nya. Ada yang baru Islam keturunannya. Ada yang baru Islam KTP-nya. Ada yang baru aksesori-aksesori yang menempel di badannya. Atau baru Islam pendidikannya. Islam ’materi hafalannya’. Pun, ’kalimat-kalimat’ yang diucapkannya. Tetapi, dia belum BERSERAH DIRI kepada Allah ~ menjadikan Allah sebagai TUJUAN satu-satunya hidupnya. Maka, ia SEJATINYA belum muslim.
Makna MUSLIM adalah: Orang yang berserah diri kepada Allah saja ...
Apanya yang diserahkan kepada Allah? Ya, segala-galanya.
Maka, perhatikanlah beberapa perbedaan di bawah ini yang mengambarkan cara beragamanya orang yang bertauhid kepada Allah, dengan yang syirik.
Orang yang bertauhid adalah orang yang MENIATKAN seluruh aktifitas ibadahnya hanya untuk Allah. Sedangkan orang yang syirik, meniatkan aktifitas ibadanya untuk selain Allah, termasuk untuk DIRI SENDIRI.
Orang yang bertauhid, menjadikan Allah sebagai TUHAN dalam hidupnya. Dia menyembah, memuja dan memuji, mengagungkan Allah, mengagumi-Nya, mendekatkan diri dan merasa bahagia karenanya. Ia menjadikan Allah sebagai SUBYEK dalam proses beragamanya. Sedangkan orang yang syirik, menjadikan Allah sebagai OBYEK dalam hidupnya. Allah tidak dijadikan sebagai SESUATU yang menguasai segala-gala yang ada pada dirinya dan alam semesta, melainkan Allah DIPERALAT untuk menyenangkan dirinya. Bahkan, tak jarang Allah diajak berdagang, diperintah dan disuruh-suruh untuk memenuhi segala keinginannya. Orang yang begini pada dasarnya tidak bertuhan kepada Allah, melainkan bertuhan kepada DIRINYA sendiri. Sedangkan Allah hanya dijadikannya sebagai PELENGKAP PENDERITA. Pemuas segala keinginannya.
Orang-orang yang bertauhid, mengorientasikan pembelajaran dalam hidupnya untuk lebih MENGENAL Allah, dan kemudian terus berusaha MENDEKATKAN DIRI. Sedangkan yang syirik, terus mencari dan berusaha mendapatkan FASILITAS-FASILITAS yang disediakan oleh Allah untuk kesenangannya. Dia lebih INGAT fasilitas daripada ingat Allah.


Orang-orang yang bertauhid akan ’memosisikan’ Allah sebagai ’Sesuatu’ yang TIDAK ADA BANDINGNYA. Sedangkan yang syirik, akan menempatkan hal-hal selain Allah SEBANDING dengan-Nya. Misalnya, mengatakan makhluk itu KEKAL. Padahal sifat kekal itu hanya MILIK Allah saja. Tidak ada di alam semesta ini yang kekal. Apalagi cuma ENERGI. Sejumlah Ilmuwan Fisika Klasik memang berpendapat bahwa energi tidak bisa diciptakan dan dimusnahkan, sehingga disebut sebagai ’hukum kekekalan energi’, itu semata-mata karena mereka belum memahami ilmu Fisika Modern. Bagi ilmuwan modern yang JUJUR dalam memahami alam semesta ini, maka dengan sangat yakinnya dia akan mengatakan bahwa energi itu TIDAK KEKAL. Ia pernah tidak ada, dan satu ketika akan tidak ada lagi. Yaitu, saat alam semesta ini belum diciptakan, dan ketika kelak dilenyapkan oleh Sang Pencipta. Karena, teori KOSMOLOGI yang paling bisa diterima saat ini adalah yang berkesimpulan bahwa semua yang ADA ini ternyata muncul dari KETIADAAN. Dan kelak akan kembali kepada ketiadaan.
Bagi orang-orang yang bertauhid, mereka memosisikan Allah sebagai Zat yang meliputi segala sesuatu, termasuk alam semesta. Sehingga segala yang ada ini sebenarnya adalah TUNGGAL, yaitu eksistensi DIRI-Nya belaka. Sedangkan bagi yang syirik, mereka menganggap Allah berada di DALAM alam semesta, ataupun bagian dari eksistensi alam semesta. Atau berada di dalam akhirat. Atau malah ada yang berpendapat Allah di dalam surga. Sehingga mereka mempersepsi segala sesuatu ini tidak tunggal. Padahal segala KEANEKA RAGAMAN ini hanyalah PENAMPAKAN dari Sesuatu yang Tunggal belaka, yaitu Allah. Laa ilaha illallah ~ tidak ada eksistensi selain Diri-Nya.

Maka, sungguh layak diprihatinkan jika kita memberikan label SIFAT ALLAH kepada makhluk. Siapa pun makhluk itu: termasuk akhirat, surga dan neraka. Karena, sesungguhnya TIDAK ADA satu ayat pun di dalam al Qur’an yang mengatakan AKHIRAT itu KEKAL. Yang ada, ialah: khalidina fiha, hum fiha khalidun, dsb. Itu bukan bercerita tentang kekalnya TEMPAT ~ surga dan neraka ~ melainkan cerita tentang ORANG yang masuk surga/ neraka, mereka TIDAK bisa KELUAR dari dalamnya sampai lenyapnya langit dan bumi, QS. 11: 106-108. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai ’kekal’ di dalamnya, selama-lamanya. Dan kemudian dipersepsi secara distortif, bahwa akhirat itu kekal.


Justru, yang dijelaskan Allah secara eksplisit itu bukanlah kekalnya segala makhluk selain Diri-Nya. Malah sebaliknya, berbagai ayat di dalam al Qur’an mengatakan yang SELAIN Allah bakal BINASA.

Maka, kawan-kawan, jika kita ingin berislam secara baik, yang nomer satu harus dibenahi adalah TAUHID. Jangan MENDUAKAN Allah dalam seluruh tataran kehidupan kita. Mulai dari niat, praktek, sampai kepada harapan-harapan atas kebahagiaan. DIA Maha Tahu tanpa harus kita suruh-suruh. Dan Maha Pemurah tanpa harus didikte-dikte.

Siapa saja yang baik akan memperoleh kebaikan. Siapa saja yang ikhlas akan disayang Allah. Siapa yang sabar, akan selalu didampingi-Nya. Siapa yang bertakwa kepada-Nya akan selalu diberi solusi dalam hidupnya. Siapa saja yang menjadikan Allah sebagai tujuan, maka ia akan sampai di TUJUAN itu, sebagai SUMBER segala kebahagiaan yang tiada putus-putusnya.

Jangan menjadikan yang ’selain Allah’ sebagai tujuan. Seperti seorang karyawan yang kualitas bekerjanya hanya SEBATAS ingin memperoleh gaji. Karyawan yang demikian ini pasti karyawan bawahan. Apakah tidak boleh? Oh boleh saja, siapa yang melarang. Itu memang hak setiap individu dan dijamin secara alamiah.

Tetapi, kalau ingin yang berkualitas tinggi, tirulah para EKSEKUTIF, yang bekerjanya bukan dikarenakan gaji lagi, melainkan sudah ingin MENGAKTUALISASIKAN dirinya. Kemampuannya. Kualitasnya. Maka, ia akan BEKERJA sebaik-baiknya. Dia senang melakukan semua pekerjaannya tanpa terpaksa, karena ia paham dan bahkan 'hobi' melakukannya, sehingga ia bisa menjalaninya dengan penuh keikhlasan. Hasilnya: pekerjaannya sangat BERKUALITAS. Sedangkan bayaran atas pekerjaannya, DENGAN SENDIRINYA akan mengalir kepadanya, seiring kualitas yang dihasilkannya. Tidak seperti karyawan yang orientasi hidupnya hanya mengejar gaji. Bekerjanya berat, tertekan, terpaksa, sering protes, mencak-mencak kalau tidak sesuai dengan keinginannya, dlsb. Mereka itu sulit untuk berprestasi, dan gajinya pun sulit untuk naik, dikarenakan kualitasnya yang memang rendah.

Saya, sebagai owner dari sebuah perusahaan justru tidak respek kepada karyawan-karyawan yang tuntutannya hanya gaji dan fasilitas yang ingin dinikmatinya. Saya tidak akan  pernah memberikan kepercayaan lebih besar kepadanya, karena orang yang seperti ini pasti SEMPIT cara berpikirnya, dan hanya memikirkan diri sendiri. Sebaliknya, saya akan memberikan promosi kepada mereka yang bekerja dengan ikhlas demi kemajuan bersama, karena karyawan yang seperti itu TIDAK PANTAS menerima GAJI KECIL. Ia pantasnya menjadi eksekutif yang BERGAJI BESAR..!

QS. Luqman (31): 22
Dan barangsiapa BERSERAH DIRI kepada Allah, sedang dia adalah orang yang BERBUAT kebajikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah KESUDAHAN segala URUSAN.

QS. Ar Rahman (55): 60
Tidak ada balasan KEBAIKAN kecuali kebaikan (pula).

QS. Al Muzzammil (73): 20
... Dan kebajikan apa saja yang kamu perbuat PASTI kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai BALASAN yang paling baik dan yang paling besar...

QS. Al Qashash (28): 88
Janganlah kamu SEMBAH di samping Allah, tuhan APA PUN yang lain. Tidak ada Tuhan melainkan Dia. Segala SESUATU bakal BINASA, kecuali ALLAH (saja). Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

Wallahu a’lam bishshawab

apa itu tauhid ??

Assalamualaikum
 bismilahirohmanirohim



Bismillah..

Sering kita mendengar, seseorang mengucapkan “tauhid”, “jadilah seorang yang bertauhid”, “mari menegakkan tauhid”, “orang yang tidak bertauhid maka akan kekal di neraka.” dan kalimat-kalimat lain.

Namun tahukah kita apa makna tauhid itu? Bagaimana seseorang bisa dikatakan telah bertauhid. Jawabannya -insya Allah- antum temukan dalam pembahasan kali ini..

TAUHID:

Tinjauan secara makna bahasa: menyatukan, menyendirikan, mengesakan.

Tinjauan secara syariat: mengkhususkan Allah –سبحانه و تعالى-, pada hal-hal yang merupakan kekhususan Allah, baik dalam Rububiyah-Nya, Uluhiyah-Nya, maupun nama dan sifat-Nya.

Sehingga bila seseorang itu dikatakan bertauhid, maka artinya adalah dia mentauhidkan Allah dalam tiga perkara:

PERTAMA:

Tauhid Rububiyah, yakni dia mengimani bahwa Allah satu-satunya yang bersendirian dalam perbuatan-Nya; kita harus meyakini bahwa Allah satu-satunya yang mencipta, meyakini bahwa Allah satu-satunya yang menghidupkan dan mematikan, yang memberi rezeki, yang memberikan manfaat kepada manusia atau menurunkan musibah kepada manusia, yang melindungi manusia. Ini semua adalah Rububiyyah Allah.

Dan kaum musyrikin di zaman Rasulullah tidak mengingkari hal ini, mereka yakin bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi, mereka yakin bahwa Allah satu-satunya yang memberi rezeki, dan selainnya dari perbuatan Allah. Penjelasan tentang hal ini akan dibahas secara rinci pada pembahasan selanjutnya.

Jadi mengakui bahwa Allah yang mencipta, memberi rezeki, Allah yang mengatur segala perkara, yang menurunkan manfaat dan musibah kepada manusia, dan selainnya dari perbuatan Allah, dinamakan tauhid Rububiyyah.

KEDUA:

Tauhid Uluhiyah, yakni mengesakan Allah, menyendirikan Allah dalam peribadahan. Segala jenis ibadah, sepanjang dia disebut ibadah dalam agama, maka ibadah tersebut hanya diperuntukkan untuk Allah –سبحانه و تعالى-, tidak boleh diperuntukkan untuk selain Allah.

Ibadah hanya untuk Allah –سبحانه و تعالى-, sholat, zakat, haji, nazar, menyembelih, berharap, memohon pertolongan, memohon perlindungan, minta dilindungi dari mara bahaya, ini semua adalah bentuk ibadah. Jika dia ibadah, maka harus diserahkan kepada Allah, tidak boleh diserahkan kepada selain Allah.

KETIGA:

Tauhid Asma’ wa Sifat, yakni kita mengimani nama-nama dan sifat Allah, yang Allah mensifatkan dirinya dengan nama dan sifat tersebut, dan Rasulullah juga mensifatkan Allah dengan nama dan sifat tersebut.

Misalnya diantara nama Allah adalah Al ‘Aliim artinya Yang Maha Mengetahui, dalam nama ini terkandung didalamnya sifat ilmu, maka dari keimanan kepada Allah terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah kita wajib meyakini nama-nama tersebut dan menetapkan sifat yang terkandung di dalamnya.

Kita wajib meyakininya tanpa menyerupakannya dengan mahlukNya. Seperti dalam beberapa nash disebutkan bahwa Allah –سبحانه و تعالى- mempunyai tangan, kaki, dan mata.

Maka ketika Allah disifatkan dengan sifat ini, apa kewajiban kita? Bagaimana kita mentauhidkan Allah dalam hal nama-nama dan sifat-sifat Allah? Caranya adalah dengan meyakini nama dan sifat tersebut, karena Allah yang menyebutkannya, Allah yang paling tau tentang diri-Nya dan Rasulullah yang paling tau tentang Allah, sehingga apabila Allah dan Rasul-Nya sudah menetapkan, maka dia harus meyakini dan mengimani bahwa Allah disifatkan dengan sifat-sifat itu sesuai dengan kemuliaan dan kebesaran Allah dan pasti tidak sama/serupa dengan mahluk, sebab tidak boleh menyerupakan Allah dengan mahluk-Nya.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (Asy Syuraa: 11)

Manusia memiliki pendengaran dan penglihatan, tapi apakah sama antara pendengaran Allah dengan pendengaran manusia? Tidak sama, sebab Allah tidak boleh diserupakan dengan sesuatu apapun.

Allah itu Maha Tinggi, Maha Sempurna, kewajiban kita meyakini nama-nama dan sifat tersebut sesuai dengan apa yang disebutkan dalam 
Al Qur’an da
Al Qur’an dan Sunnah, kita imani sesuai dengan kebesaran dan kemuliaan Allah tanpa kita menolak nama dan sifat tersebut atau menyerupakan Allah dengan mahlukNya.

Kembali kami simpulkan, bahwa tauhid terbagi berapa? Tauhid terbagi tiga, yakni tauhid Rububiyah, yakni Allah satu-satunya yang bersendirian dengan perbuatanNya, yang kedua yakni tauhid uluhiyah yakni mengesakan Allah dalam peribadatan, seluruh jenis ibadah hanya diperuntukkan untuk Allah –سبحانه و تعالى-, tidak boleh ada ibadah yang diserahkan kepada Allah, kemudian yang ketiga adalah tauhid asma’ wa sifat, yakni kita mengimani nama dan sifat Allah yang diterangkan dalam Al Qur’an dan Sunnah, kita imani hal tersebut dengan penuh pembesaran dan pemuliaan kepada Allah, kita yakini bahwa Allah disifatkan dengan sifat tersebut sesuai dengan kebesaran dan kemuliaan-Nya, dan kita yakin bahwa Allah tidak serupa dengan sesuatu apapun.

Inilah tauhid, seseorang memurnikan ibadahnya hanya untuk Allah –سبحانه و تعالى-.

Sumber: Ditranskrip dari dauroh kitab Qawa’idil Arba’. Yang dibawakan oleh Al Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi -hafizhahullah-

Pembahasan selanjutnya: Syirik dan Bentuk-bentuknya

Baca juga : perbedaan tauhid dan syirik


















Apa si itu solat bagi umat islam

Sholat Bagi Umat Islam

Sholat Bagi Umat Islam - Asal makna sholat menurut bahasa Arab berarti “do’a”. Tetapi yang di maksud disini Sholat adalah ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan, yang dimulai dari niat dan di akhiri dengan salam, serta memenuhi beberapa syarat dan rukunnya.
Firman Alloh yang tersurat dalam Alquranul Karim, surat Al-Ankabut ayat 45 menyatakan “Dan dirikanlah sholat, sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan – perbuatan) keji dan mungkar.”
Sholat di bagi dua yaitu

1.       Sholat Wajib
Sholat Wajib adalah sholat yang diwajibkan bagi tiap tiap muslimin dan muslimat dewasa/balig dan berakal serta di tentukan waktunya yang ditandai dengan adzan dan iqomah. Dikatakan wajib karena jika dikerjakan mendapat pahala, tetapi jika ditinggalkan mendapat dosa. Sholat wajib dalam sehari semalam ada lima yaitu sholat subuh, dzuhur, magrib, ashar, magrib dan ‘isya.
2.       Sholat Sunah
Sholat Sunat adalah sholat yang apabila dikerjakan mendapat pahala, jika di tinggalkan tidak mendapat dosa. Sholat sunat ini banyak macamnya yitu antara lain sholat rawatib, sholat duha, sholat tahajut, sholat hajat, dan lain lain.

Syarat Wajib Sholat Lima Waktu

Yang dimaksud syarat wajib sholat adalah syarat di wajibkanya seseorang untuk mengerjakan sholat.
1.       Islam
Selain orang yang beragama islam tidak di wajibkan untuk sholat sehingga ia masuk islam. Masuk islam di tandai dengan membaca dua kalimat sahadat yaitu mengucapkan ikrar bahwa tiada tuhan yang wajib disembah kecuali Alloh dan Nabi Muhammad Saw adalah utusanNya.
2.       Berakal
Yaitu orang yang tidak lupa ingatan/gila
3.       Suci dari najis, hadast besar dan hadast kecil
Suci dari Najis dilakukan dengan membersihkannya sampai hilang bau, rasa dan warnanya. Hadast besar di sucikan dengan mandi besar, sedangkan hadast kecil di sucikan dangan wudlu atau tayamum.
4.       Usia balig
Usia balig ditandai dengan adanya haid bagi perempuan, mimpi bersetubuh/keluar mani bagi laki laki atatu telah berumur 15 tahun jika tanda keduanya tadi belum ada.
5.       Telah sampai da’wah rosululloh kepadanya
Kaum atau orang yang belum pernah mendengar tentang da’wah rosululloh atau perintah sholat tidak di tuntut hukum.
6.       Terjaga
Terjaga artinya tidak dalam keadaan tidur dan tidak lupa. Apabila seseorang meninggalkan sholat akibat tidur dan lupa maka ia wajib sholat setelah bangun tidur dan ingat.

Syarat Sah sholat

Yang di maksud syarat sahnya sholat adalah perbuatan-perbuatan yang menjadi syarat sahnya sebelum melaksanakan sholat. Yaitu antara lain:
1.       Suci dari hadast besar dan hadast kecil
Ditandai dengan mandi besar untuk hadast besar, wudlu atau tayamum untuk hadast kecil
2.       Suci badan, pakaian, dan tempat sholat dari najis
Membersihkan najis sebelum sholat. Najis yang sulit di hindarkan seperti nanah bisul, darah khitan dsb, di berikan keringanan.
3.       Menutup Aurat
Menutup aurat/kemaluan bagi perempuan seluruh badan kecuali telapak tangan dan muka/wajah, bagi laki-laki antara lulut sampai pusar
4.       Mengetahui waktunya waktu sholat
Sholat wajib dan beberapa sholat sunah ditentukan waktunya. Syarat sahnya sholat adalah jika telah masuk/tiba waktunya.
5.       Menhadap kiblat
Menghadap kiblat yang dimaksud disini adalah menghadapkan wajah dan dada/badan kearah yang telah di tentukan syara yaitu mengahadap ke Ka’bah.

Rukun Sholat

Rukun sholat adalah tahapan perbuatan atau ucapan yang harus/wajib di lakukan ketika sholat. Yaitu antara lain:
1.       Niat
Niat secara istilah artinya menyegaja. Sedangkan arti secara syara adalah menyengaja suatu perbuatan untuk melaksanakan perintah Alloh dan Rosulnya. Niat sebaiknya di ucapkan atau di lafatkan dan dimengerti artinya untuk memberi keyakianan dalam hati.
2.       Berdiri
Berdiri jika kuasa tetapi jika tidak kuasa dikarenakan sakit atau sebab yang lain bisa sambil duduk, jika tidak dapat duduk bisa juga dengan berbaring, jika tidak bisa juga lakukanlah dengan isyarat. Shalat lima waktu wajib dilaksanakan selama masih ada nyawa dan iman dalam hati.
3.       Takbiratul Ikram
Artinya mengucapkan “allohhu Akbar”.
4.       Membaca surat Al-Fatihah
Wajib membaca surat Al-Fatihah ketika berdiri sebelum membaca ayat lain dari Alqur’an.
5.       Ruku’ dengan tuma’ninah
Ruku’ adalah menundukkan badan, bagi sholat berdiri sekurang kurangya menunduk sampai tangan menyentuh lutut, namun sebaiknya badan/tulang punggung dan leher lurus membentuk sudut 90 derajat dan meletakkan kedua telapak tangan ke  lutut. Tuma’ninah artinya diam atau tenang sesaat.
6.       I’tidal dengan tuma’ninah
Artinya kembali berdiri seperti ketika membaca suratAL-Fatihah.
7.       Sujud dua kali dengan tuma’ninah
Sujud artinya meletakkan dahi ketempat sujud. Sebagian ulama mengatakan bahwa sujud wajib meletakkan tujuh anggota badan ke tempat sujud, yaitu dahi, dua telapak tangan, dua lutut dan ujung jari telapak kaki
8.       Duduk antara dua sujud dengan tuma,ninah
Yaitu duduk dengan melipat kaki dengan posisi betis di bawah (bukan duduk bersila)
9.       Duduk akhir
Duduk setelah dua kali sujud sebelum mengakhiri sholat. Posisi ini dilakukan pada rekaat kedua dan ke empat pada sholat wajib yang empat rekaat atau pada rekaat kedua ketika sholat wajib/sunat dua rekaat
10.   Membaca tasyahut akhir
Yaitu bacaan khusus ketika duduk akhir.
11.   Membaca sholawat Nabi Muhammad Saw
Sholawat atas Nabi Muhammad saw dan keluarganya setelah membaca tasyahut akhir
12.   Memberi salam
Yaitu membaca salam dua kali seraya menengok kekanan dan kekiri
13.   Tertib
Artinya melakukan tahapan-tahapan perbuatan dan bacaan secara berurutan sesuai rukun diatas.

Rabu, 07 Desember 2016

benarkah kitab maulid al-barzanji,al-burdah dan al-di bai kitab sesat ??

Trimakasih atas pertanyaan li lik
Dr group facebook
Di sini akan admin ulas dengan se pengetahuan saya..
Jika ada kata kata yang salah atau tulisan mohon di koreksi di comentar




Al Muchtar Joraez
kalau sholawat hanya boleh yg dr nb,knp para sahabat ad yg menyusun sholawat sendiri?
Abdul Aziz Al Fatih
Mana buktinya??

Si Fulan
buktiny di sholawat burdah, sholawat ad diba'i dll,smua ad kitabny ad silsilahny,ngaji mu iku ng di seh kok ndeso ngunu ae gk ero...

Wirosableng
Pernah dengar kisah sahabat yang mendapat penghormatan untuk duduk di dekat beliau saw karena shalawatnya? Padahal shalawat yang dibaca bukan yang di ajarkan dari nabi

Si Fulan
Hee Tak Melok Komen yoo! Ngene loh Poin Pentinge,Tak kopas mane Postinganmu: Karena Sholawat Adalah Ibadah SUNNAH TANPA SYARAT,masi mbok gae sombong iku tetep ole ganjaran soale sholawat puny keistimewaan,loh lah kok iso,rinnio tak dudui kitab gundul sak klembrek_  kabeh kok bid'ah,diangger sesat,ndasmu iku sesat soale gk ono ng jamane nabi_




Benarkah Kitab Maulid Al-Barzanji, Al-Burdah, dan Ad-Diba’i Kitab Syirik ?
Dari “Kenapa Takut Bid’ah?”Alhamdulillah Puji puja dan sukurku tak henti-hentinya kepada pemilik alam semesta ini, pengatur hidup makhluk ini, pengasih dan penyayang setiap makhluknya, maha adil, maha bijaksana, maha pengampun hambanya yang kembali kepadanya. Sholawat dan Salam Allah, Malaikat dan semua makhluk, tetap tercurah tanpa henti-hentinya kepada makhluk yang paling mulia, kekasih raja alam, pemimpin manusia, Nabi muhammad SAW, beserta keluarga, para sohabat, tabi’in, tabi’u tabi’in, dan semua yang mengikuti mereka hingga Akhir alam ini.
Qashidah Maulid al-Burdah, al-Barzanji atau ad-Daiba’i yang hampir setiap saat selalu di baca dan dilantunkan oleh sebagian warga di Indonesia kerap kali dinilai oleh orang-orang Wahhabi sebagai qashidah pujian terhadap Rasulullah yang ‘keblabasan’, karena di dalamnya tercatat ucapan-ucapan yang dinilai syirik terhadap Allah. Salah satu contohnya adalah qashidah sebagaimana berikut:
يَا مُجِيْرُ مِنَ السَّعِيْرِ فَأَغِثْنِي وَأَجِرْنِي
فِي مُلِمَّاتِ اْلأُمُوْرِ يَا غِيَاثِ يَا مَلاَذِ
“Wahai Rasulallah yang menyelamatkan dari Neraka Sa’ir, tolonglah aku dan selamatkanlah aku.Wahai penolongku, wahai tempat berlindungku di dalam segala perkara-perkara yang sulit.”Dua qashidah tersebut memberikan pengertian bahwa ad-Diba’i menyifati Rasulullah dengan sifat sebagai Mujir (penyelamat), Ghiyats (penolong) dan Maladz (tempat berlidung). Dan hal tersebut dianggap oleh mereka sebagai kata-kata yang menyekutukan Allah. Karena menurut mereka ketiga kata tersebut hanya layak di sematkan pada Allah dan bukan kepada makhluk.
Sebelum mengetahui lebih dalam ketiga kata tersebut, harus difahami posisi antara Khaliq (Dzat pencipta) dan makhluq (yang di ciptakan) sebagai pijakan hukum apakah yang dilakukan oleh seseorang adalah bentuk syirik kepada Allah atau tidak. Allah, sebagai sang Al-Khaliq, adalah Dzat yang dapat memberi manfaat dan madharat, sementara makhluk tidak mempunyai daya apa-apa untuk memberikan manfaat atau madharat kepada orang lain. Begitu juga, Allah al-Khaliq, dapat memberi petunjuk atau hidayah kepada makhluk, namun makhluk sebagai hamba lemah tidak dapat melakukannya. Hal ini yang dii’tiqadkan oleh segenap pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah.Manusia, termasuk Rasulullah dan lain-lain yang di sifati dengan kata mujir, ghauts dan maladz (semua mempunyai makna memberikan pertolongan atau perlindungan) adalah dalam kapasitas sebagai makhluk dan bukan sebagai Tuhan, Sang Khaliq Yang Maha Segalanya. Jadi, ada sekat jelas antara maqam (kedudukan) khaliq dan maqam makhluq.
Sekedar contoh, jika kita minta pertolongan atau meminta perlindungan kepada seseorang karena kita sedang kesusahan, dirundung marabahaya, atau akan dicederai orang lain misalnya, apakah berarti kita telah musyrik atau menyekutukan Allah karena tidak meminta perlindungan langsung kepada Allah? Tentu jawabnya tidak setelah kita memahami antara kedudukan khaliq dan makhluq diatas!?
Selanjutnya akan kita kupas ketiga kata tersebut:
Kata MujirLafaz mujir bukan termasuk Asma’ul Husna (Nama-Nama Allah yang Indah), karena nama tersebut tidak ada dalam 3 riwayat hadits tentang Asma’ul Husna yang ditulis oleh as-Suyuthi dalam al-Jami’ ash-Shaghir. Selain dari pada itu, al-Munawi berpandangan bahwa—sesuai pendapat yang kuat—membuat shifat atau nama (secara khusus) untuk Allah adalah tauqifi (langsung dari Rasulullah) sehingga tidak boleh membuatnya sendiri miskipun materi lafaznya ada, kecuali ada langsung dalam al-Qur’an atau hadits shahih. Mengenai kata Mujir, dalam al-Qur’an surat al-Mu’minun ayat 88 Allah berfirman:
قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi (menyelamatkan) tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui.”
Dalam Surat at-Taubah ayat 6 Allah berfirman:
:
وإنْ أَحَدٌ مِنَ المُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللهِ ثُمَّ أَبلِغهُ مَأْمَنَهُ
“Dan jika seseorang di antara orang-orang musyrik itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ke tempat yang aman baginya.”
Kedua ayat tersebut memberikan pengertian bahwasannya sifat mujir (penolong) tidak hanya disematkan pada Allah, akan tetapi selain Allah juga dapat mempunyai sifat tersebut. Artinya, kata mujir bisa saja disifatkan pada Allah atau selain Allah. Dan, bagi selain Allah seperti Rasulullah atau yang lain, pertolongan yang diberikan adalah kadar kapasitasnya sebagai manusia atau makhluk bukan sebagai khaliq, yaitu seperti memintakan syafaat umatnya supaya tidak disiksa oleh Allah atau syafa’at supaya mendapatkan ampunan dari Allah dan lain-lain. Sama halnya dengan kata ar-Rauf dan ar-Rahim yang juga di sematkan pada Rasulallah, selain kedua kata tersebut juga termasuk asma’ul husna bagi Allah. Dan keduanya mempunyai sekat yang jelas antara Tuhan dan makhluk.( Mengenai pembahasan memohon syafa’at setelah Rasulullah wafat, lihat secara khusus dalam kitab At-Tahdzir ‘an al-Ightirar bima Ja’a fi Kitab al-Hiwar hal 141 dengan di sertai dalil-dalilnya yang kuat. Hal ini merupakan bantahan terkait dengan tuduhan aliran Wahhabiyyah – salah satunya adalah Abdullah bin Mani’ pengarang kitab Hiwar ma’a al-Maliki- bahwa memohon syafaat Rasulallah setelah beliau meninggal adalah termasuk perbuatan syirik ).
Sayyid Hasyim ar-Rifa’i saat menjelaskan kemampuan Rasulullah dalam memenuhi kebutuhan dan menghilangkan kesusahan para manusia (dalam shalawat Nariyyah) mengatakan bahwa memenuhi berbagai kebutuhan dan menghilangkan kesusahan adalah Allah yang dapat melakukannya dengan tanpa bimbang sama sekali kecuali orang kafir dan orang yang bodoh. Sedangkan menisbatkan pekerjaan tersebut kepada Rasulullah adalah nisbat majazi (nisbat yang tidak haqiqi atau dalam ilmu balaghah di sebut majaz aqli).
Kata GhiyatsAsma ghiyats (al-Mughits) banyak diakui sebagai salah satu sifat Rasulullah. Meskipun Allah juga mempunyai asma ghauts (al-Mughits) dan tercatat sebagai Asma’ Husna dalam satu riwayat. (Fatawi Haditsiyyah hlm. 204. Darul Fikr.)
Artinya, sebagaimana Allah yang menyandang sifat ghauts, selain Allah seperti Rasulullah atau selainnya juga bisa menyandang sifat tersebut, namun dalam koredor kapasitasnya sebagai seorang makhluq. Dengan begitu, sifat ghauts yang dimiliki Rasulullah adalah sifat menolong dan membantu insan lain dari segala kesusahan dan lain-lain dan hanya sebatas yang dimampuni oleh Rasulullah, seperti memintakan syafa’at kepada Allah agar supaya orang-orang tertentu diampuni, diselamatkan dari siksa api neraka, derajatnya di tinggikan dan lain-lain.Dalam sebuah hadits shahih riwayat al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawa’id juz 10/159 dan ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir disebutkan:
لاَ يُسْتَغَاثُ بِى إِنَّمَا يُسْتَغَاثُ بِاللهِ
“Aku tidak dibuat untuk itighatsah, tapi yang dibuat istighatsah adalah Allah.”
Hadits ini kerap sekali di buat dalil tentang keharamannya melakukan istighatsah (meminta tolong) kepada Rasulallah oleh mereka orang-orang yang ingkar terhadap legalnya beristighatsah, namun membuat dalil hadits di atas sebagai pelarangan adalah kesalahan, karena jika yang di maksudkan adalah haram beristighatsah kepada Rasulullah secara mutlak, niscaya akan bertentangan dengan apa yang di lakukan oleh para shahabat yang juga melakukan istighatsah, bertawassul dan memohon do’a kepada beliau. Dan Rasulallah melayani dengan senang hati. Maka dari itu, hadits diatas butuh penta’wilan dan penjelasan.
Menurut Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dalam Mafahim Yajib an Tushahhah hal. 188, sabda Rasulallah tersebut bertujuan menetapkan hakikat tauhid dalam pondasi i’tikad (aqidah) yang sebenarnya, yakni bahwasannya al-Mughits secara hakikat adalah Allah, sementara hamba hanya berkapasitas sebagai perantara dalam hal yang dimaksud. Atau Rasulullah dalam hadits diatas bermaksud memberi pengertian kepada para shahabat agar tidak meminta kepada hamba tentang sesuatu yang tidak mampu di lakukannya, seperti memasukkan ke dalam syurga, selamat dari api neraka atau menanggung mati husnul khatimah.
Sebagai bukti bahwa makhlukpun dapat di sifati mughits adalah dalam al-Qur’an surat al-Qashash ayat 15 disebutkan berikut:
وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَى حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلاَنِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيْهِ
“Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu ada dua laki-laki yang berkelahi, yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan yang seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya dan matilah musuhnya itu.”
Dalam hadits shahih tentang doa istisqa’ (meminta hujan) yang masyhur diriwayatkan oleh Abu Dawud (no 988), Ibnu Majah (no 1260), al-Hakim (no 1226), al-Baihaqi (no 6230), dan lain-lain disebutkan:
اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا
“Wahai Allah, berilah kami hujan yang dapat menolong.”
Hadits doa meminta hujan tersebut menggunkan kata “mughits” (hujan yg memberikan pertolongan) serta yang mengajarkan adalah Rasulullah.
Kata MaladzMaladz artinya, Rasulullah merupakan ghiyats bagi orang-orang yang meminta perlindungan atau menjadi tempat berlindung saat Allah sedang murka. Pengertian kata ini juga sama dengan 2 kata di atas, artinya Rasulullah mampu melindungi sekedar kapasitas kemampuan beliau. Termasuk perlindungan Rasulullah di akhirat adalah ketika para makhluk merasa keberatan dan kepanasan di padang makhsyar, yaitu supaya semua makhluk sesegera mungkin dihisab oleh Allah (syafa‘atul ‘uzhma atau maqam mahmud).Dalam sebuah hadits shahih riwayat al-Bukhari, dalam Shahih-nya:

اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا

“Wahai Allah, berilah kami hujan yang dapat menolong.”
Hadits doa meminta hujan tersebut menggunkan kata “mughits” (hujan yg memberikan pertolongan) serta yang mengajarkan adalah Rasulullah.
Kata MaladzMaladz artinya, Rasulullah merupakan ghiyats bagi orang-orang yang meminta perlindungan atau menjadi tempat berlindung saat Allah sedang murka. Pengertian kata ini juga sama dengan 2 kata di atas, artinya Rasulullah mampu melindungi sekedar kapasitas kemampuan beliau. Termasuk perlindungan Rasulullah di akhirat adalah ketika para makhluk merasa keberatan dan kepanasan di padang makhsyar, yaitu supaya semua makhluk sesegera mungkin dihisab oleh Allah (syafa‘atul ‘uzhma atau maqam mahmud).Dalam sebuah hadits shahih riwayat al-Bukhari, dalam Shahih-nya:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ وَقَالَ إِنَّ الشَّمْسَ تَدْنُو يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَبْلُغَ الْعَرَقُ نِصْفَ الْأُذُنِ فَبَيْنَا هُمْ كَذَلِكَ اسْتَغَاثُوا بِآدَمَ ثُمَّ بِمُوسَى ثُمَّ بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Rasulullah bersabda: ‘Sesungguhnya matahari pada Hari Kiamat telah dekat sehingga keringat manusia akan mencapai separuh telinga. Pada saat itu mereka meminta tolong (ghauts)kepada Adam, kemudian kepada Musa, dan terakhir kepada Muhammad Saw.”
Itulah jawaban yang harus disampaikan, karena ucapan para penyair yang menulis qashidah mada’ih an-nabawiyyah (puji-pujian Nabi) seperti al-Barzanji, ad-Diba’i dan al-Bushiri dalam al-Burdah adalah sudah benar adanya dan tidak menyelisih dari ajaran Rasulullah. Selain itu, mereka juga muslim taat yang sangat berhati-hati dan menghindari hal-hal yang berbau syubhat dan syirik. Apakah penyair-penyair di atas sedemikian bodoh dan hina di mata mereka?! Demi Allah, mereka adalah orang soleh!

ditemukan sesok mayat

Lengkong bojong tegal jawa tengah ..  Risalah news




7desember 2016 .. Di sore hari yang tenang tiba tiba menjadi ramai

Di temukan seorang mayat laki2 tanpa identitas 
Mmbawa cangkul dan menggunakan clana pendek tergeletak di sungai kecil dengan ke adan tengkurep..  Sebelum polisi datang warga tidak berani untuk menyentuh mayat...
Dan setelah mayat itu d balik ternya seorang warga setempat separuh baya baru pulang dari sawah.. Di duga bliau meninggal krna mmpunyai pnyakin dan kmbuh trpleset jatuh ke sungai..
Mayat sedang d otopsi untuk mengetahui kelanjutan penyebab kematian..

Pic






Selasa, 06 Desember 2016

asalmuasal muludan yang penuh kesesatan

Ada  banyak cara untuk perayaan maulid nabi



Sebelum mmbaca jadi begini lo kesimpulanya..
Maulid nabi memang tidak ada ada dalm hadistz dalam sunah apalagi alquran.
 Tapi yg nmnya orang islam apalagi orang Nu aswaja yang fanatik dengan agamnya yg sok pinter mengarang program program islam yg penuh kesesatan bit'ah.. Seperti ziaroh kubur tahlilan.. Dan muludan..
Lo ko sesat di mana kesesatanya.????
Maulid nabi muhamad saw. Sebelum mmbaca sejarah kita perlu tau knpa d adanya maulid nabi dan ke untunganya pa??
Sebagi hamba dan mengaku umat rosullulloh.. Kita tidak bisa mengikuti langkah rosulluloh stidaknya kita mnyukainya... Cinta kepada baginda rosululloh  caranya bagai mana kita menunjukan cinta kita kepada rosulluloh  sedangkan kita mngikuti jejaknya atau Baru tatacarany saja kita tidak mampu...???
Ya dengan cara kita bersolawT atas rosululloh..  menyukai smua yg rosulluloh lakukan.. 
Mmperingati hari lahir rosulluloh..  Memuji rosululloh..  Salah satunya ya dengan muludan..
Mmbaca syair2 indah tntang mmuji ke agungan rosulluloh..

Mmbaca al perjanji. Pa si isi al perjanji ???   
Al perjanji itu sya'ir  atau mmakai bahasa-bahasa seni sastra yg sangat lembut.. Dan cerita tentang rosululloh Bayi kecil dewasa hingga d anggat mnjadi rosululloh..
Dengan di adakanya maulid nabi ini berharap bsa mndapatkan syafaat dari beliau nabi muhamad saw Di ahirat nanti.. 
Dengan di adaknya maulud nabi.. hati kita jd merasa bangkit kembali.. Mmbagkitkan semangat umat islam.. Di stiap pojok desa masjid musola terdengar seruan rosululloh solawat nabi.. 
Kita tidak mau mmbaca solawatan Melarang orang bersolawatan memiji rosullulah mengetahui lgvsejarahbrosululloh denganval perjanji tapi ingin di akui umat rosululloh..
Situ siap?? Orang dalem ??


Sejarah maulid
Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada mulanya diperingati
untuk membangkitkan semangat umat Islam. Sebab waktu itu umat Islam sedang
berjuang keras mempertahankan diri dari serangan tentara salib Eropa,
yakni dari Prancis, Jerman, dan Inggris.
Kita mengenal musim itu sebagai Perang Salib atau The Crusade. Pada tahun
1099 M tentara salib telah berhasil merebut Yerusalem dan menyulap
Masjidil Aqsa menjadi gereja. Umat Islam saat itu kehilangan semangat
perjuangan dan persaudaraan ukhuwah. Secara politis memang umat Islam
terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan. Meskipun ada satu
khalifah tetap satu dari Dinasti Bani Abbas di kota Baghdad sana, namun
hanya sebagai lambang persatuan spiritual.
Adalah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi --orang Eropa menyebutnya Saladin,
seorang pemimpin yang pandai mengena hati rakyat jelata. Salahuddin
memerintah para tahun 1174-1193 M atau 570-590 H pada Dinasti Bani Ayyub
--katakanlah dia setingkat Gubernur. Pusat kesultanannya berada di kota
Qahirah (Kairo), Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir
sampai Suriah dan Semenanjung Arabia. Kata Salahuddin, semangat juang umat
Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat
kepada Nabi mereka. Salahuddin mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar
hari lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal kalender Hijriyah, yang
setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini harus dirayakan
secara massal.
Ketika Salahuddin meminta persetujuan dari khalifah di Baghdad yakni
An-Nashir, ternyata khalifah setuju. Maka pada musim ibadah haji bulan
Dzulhijjah 579 H (1183 Masehi), Salahuddin sebagai penguasa haramain (dua
tanah suci, Mekah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh
jemaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera
menyosialkan kepada masyarakat Islam di mana saja berada, bahwa mulai
tahun 580 Hijriah (1184 M) tanggal 12 Rabiul-Awal dirayakan sebagai hari
Maulid Nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat
Islam.
Salahuddin ditentang oleh para ulama. Sebab sejak zaman Nabi peringatan
seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran
agama cuma ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin
kemudian menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang
menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga
tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang.
Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan
Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 H) adalah menyelenggarakan
sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan
bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk
mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah
Syaikh Ja`far Al-Barzanji. Karyanya yang dikenal sebagai Kitab Barzanji
sampai sekarang sering dibaca masyarakat di kampung-kampung pada
peringatan Maulid Nabi.
Barzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad, mencakup silsilah
keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi
rasul. Karya itu juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi
Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia.
Nama Barzanji diambil dari nama pengarang naskah tersebut yakni Syekh
Ja'far al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim. Dia lahir di Madinah tahun
1690 dan meninggal tahun 1766. Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di
Kurdistan, Barzinj. Karya tulis tersebut sebenarnya berjudul 'Iqd
Al-Jawahir (artinya kalung permata) yang disusun untuk meningkatkan
kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Tapi kemudian lebih terkenal dengan
nama penulisnya.

Ternyata peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Sultan Salahuddin itu
membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib
bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada
tahun 1187 (583 H) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa
Eropa, dan Masjidil Aqsa menjadi masjid kembali, sampai hari ini.
***
Dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara, perayaan Maulid Nabi atau
Muludan dimanfaatkan oleh Wali Songo untuk sarana dakwah dengan berbagai
kegiatan yang menarik masyarakat agar mengucapkan syahadatain (dua kalimat
syahadat) sebagai pertanda memeluk Islam. Itulah sebabnya perayaan Maulid
Nabi disebut Perayaan Syahadatain, yang oleh lidah Jawa diucapkan Sekaten.
Dua kalimat syahadat itu dilambangkan dengan dua buah gamelan ciptaan
Sunan Kalijaga bernama Gamelan Kiai Nogowilogo dan Kiai Gunturmadu, yang
ditabuh di halaman Masjid Demak pada waktu perayaan Maulid Nabi. Sebelum
menabuh dua gamelan tersebut, orang-orang yang baru masuk Islam dengan
mengucapkan dua kalimat syahadat terlebih dulu memasuki pintu gerbang
"pengampunan" yang disebut gapura (dari bahasa Arab ghafura, artinya Dia
mengampuni).
Pada zaman kesultanan Mataram, perayaan Maulid Nabi disebut Gerebeg Mulud.
Kata "gerebeg" artinya mengikuti, yaitu mengikuti sultan dan para pembesar
keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi,
lengkap dengan sarana upacara, seperti nasi gunungan dan sebagainya. Di
samping Gerebeg Mulud, ada juga perayaan Gerebeg Poso (menyambut Idul
Fitri) dan Gerebeg Besar (menyambut Idul Adha).
Kini peringatan Maulid Nabi sangat lekat dengan kehidupan warga Nahdlatul
Ulama (NU). Hari Senin tanggal 12 Rabi'ul Awal (Mulud), sudah dihapal luar
kepala oleh anak-anak NU. Acara yang disuguhkan dalam peringatan hari
kelahiran Nabi ini amat variatif, dan kadang diselenggarakan sampai
hari-hari bulan berikutnya, bulan Rabius Tsany (Bakdo Mulud). Ada yang
hanya mengirimkan masakan-masakan spesial untuk dikirimkan ke beberapa
tetangga kanan dan kiri, ada yang menyelenggarakan upacara sederhana di
rumah masing-masing, ada yang agak besar seperti yang diselenggarakan di
mushala dan masjid-masjid, bahkan ada juga yang menyelenggarakan secara
besar-besaran, dihadiri puluhan ribu umat Islam.
Ada yang hanya membaca Barzanji atau Diba' (kitab sejenis Barzanji). Bisa
juga ditambah dengan berbagai kegiatan keagamaan, seperti penampilan
kesenian hadhrah, pengumuman hasil berbagai lomba, dan lain-lain, dan
puncaknya ialah mau’izhah hasanah dari para muballigh kondang.
Para ulama NU memandang peringatan Maulid Nabi ini sebagai bid’ah atau
perbuatan yang di zaman Nabi tidak ada, namun termasuk bid’ah hasanah
(bid’ah yang baik) yang diperbolehkan dalam Islam. Banyak memang amalan
seorang muslim yang pada zaman Nabi tidak ada namun sekarang dilakukan
umat Islam, antara lain: berzanjen, diba’an, yasinan, tahlilan (bacaan
Tahlilnya, misalnya, tidak bid’ah sebab Rasulullah sendiri sering
membacanya), mau’izhah hasanah pada acara temanten dan Muludan.
Dalam Madarirushu’ud Syarhul Barzanji dikisahkan, Rasulullah SAW bersabda:
"Siapa menghormati hari lahirku, tentu aku berikan syqfa'at kepadanya di
Hari Kiamat." Sahabat Umar bin Khattab secara bersemangat mengatakan:
“Siapa yang menghormati hari lahir rasulullah sama artinya dengan
menghidupkan Islam!” 
wallohu alam bisoaf...

Sabtu, 26 November 2016

Apakah orang yang sudah meninggal tidak bisa mendengarkan doa kita ???


Assalmualaikum .....

....................bismillahiromanirohim..........

Mungkin bnyak sekali yg bertnya tanya apakah orang meninggal bisa mendengar doa kita??
Jangankan orang ninggal orang tidur aja tidak mendengar suara orang ngobrol di sampingnya pa lagi orang meninggal..
.......Pikir pintar...
Mungkin itu pemiliran sebagian orang yg tidak mmpercayainya...
Dan mereka
Berpedoman pada ayat dan hadist berikut..

“Artinya : Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu ; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang maha Mengetahui”. [Fathir : 14]

Begitu juga firmanNya Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar”. [Fathir : 22]

Akan tetapi terkadang Allah memperdengarkan kepada mayit suara dari salah satu rasulnya untuk suatu hikmah tertentu, seperti Allah memperdengarkan suara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang-orang kafir yang terbunuh di perang Badar, sebagai penghinaan dan penistaan untuk mereka, dan kemuliaan untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sampai-sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada para sahabatnya ketika sebagian mereka mengingkari hal tersebut.

“Artinya : Tidaklah kalian lebih mendengar apa yang aku katakana daripada mereka, akan tetapi mereka tidak mampu menjawab”. [1]

Lihat pembahasan ini di kitab An-Nubuwat, kitab At-Tawassul Wa-al-Wasilah dan kitab Al-Furqan, seluruhnya karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Maka kitab-kitab tersebut cukup memadai dalam mengupas pembahasan ini.

Adapun mayat yang mendengar suara langkah orang yang mengantarnya (ketika berjalan meninggalkan kuburnya) setelah dia dikubur, maka itu adalah pengengaran khusus yang ditetapkan oleh nash (dalil), dan tidak lebih dari itu (tidak lebih dari sekedar mendengar suara terompah mereka), karena hal itu diperkecualikan dari dalil-dalil yang umum yang menunjukkan bahwa orang yang meninggal tidak bisa mendengar (suara orang yang masih hidup), sebagaimana yang telah lalu.

Shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, keluarganya, dan sahabat-shabatnya.

[Fatawa Li Al- Lajnah Ad-Da’imah I/151-152 dari Fatwa no. 7366 Di susun oleh Syaikh Ahmad Abdurrazzak Ad-Duwaisy, Darul Asimah Riyadh. Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 7/I/ 1424H]

Wallahualam bisoaf...

Coba kita tengok dr sisi lain..
Ketika kita mmbaca artikel jgn cuma trpaku oleh satu sumber...
Kita lihat sumber2 yg trpercya kenapa mereka mmpercainya dan kenapa mereka tidak mmpercayainya...
Alahngkah lebih baiknya tanya guru agama kita jgn cuma ambil dr intrnet
D sini admin cuma mau mmberikan penjelasan tentang dalil d atas dan penjabaran
Dari sisi yg mmperbolhkan.. Apkh mmpunyai alasan lain???
Percaya atau tidak trgantung dr diri kalian peribadi..
Sekali lagi admin mnyuruh kalian untuk belajar dr guru agama kalian.. Jangan cuma lewat intrnet... Trus lngsung mngesimpulkan tnpa mengurek2 di dalamnya.. 

Orang yang mati dan terbaring didalam kuburnya dapat mengetahui orang yang datang menziarahinya dan merasa senang. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa alasan dan dalil sebagai berikut:

Didalam ash-Shahihain dikisahkan: seusai perang Badar, Rasulullah saw memerintahkan sahabat agar mengumpulkan tentara kafir quraisy yang tewas dan melemparkannya ke sumur kuno. Selanjutnya beliau berdiri di dekat sumur itu dan memanggil nama mereka satu persatu : "Hai Fulan bin Fulan, hai Fulan bin Fulan. Apakah kalian benar-benar memperoleh apa yang telah dijanjikan tuhan kalian? Sesungguhnya aku sudah mendapatkan apa yang telah dijanjikan Tuhanku".  Umar ra bertanya, "Ya Rasulalloh! Bagaimana mungkin engkau bisa berbicara dengan orang-orang yang sudah menjadi bangkai?". Jawab beliau, "Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran. Mereka lebih mendengar perkataanku daripada kalian. Hanya saja mereka tidak mampu menjawab".

Dalam sebuah hadis diriwayatkan, bahwa mayit dapat mendengar suara sandal pelayat sewaktu meninggalkan kuburnya.

Dalam beberapa hadis diriwayatkan, bahwa Rasulullah saw mensyariatkan kepada kaum muslimin agar mengucapkan salam kepada penghuni kubur sewaktu menziarahinya :

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ  أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ .....

"Salam sejahera atas kalian, wahai penduduk tempat tinggal kaum mukminin …"

Ucapan salam tersebut menggunakan dhamir mukhathab "'Alaikum" ("atas kalian", kata ganti orang kedua, yakni orang yang diajak berbicara). Tentu saja ucapan itu hanya layak ditujukan kepada orang hidup yang hadhir (dihadapan) yang bisa mendengar, diseru, berfikir dan dapat menjawab salam itu. Jika tidak demikian, berarti ucapan salam tersebut sia-sia, sama artinya berbicara dengan benda mati seperti batu, tanah dll.

Rasulullah saw bersabda :

مَا مِنْ اَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلاّ رَدَّ اللَّهُ عَلَيَّ رُوْحِيْ حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ

"Tiada seorang muslim pun yang menyampaikan salam kepadaku melainkan Allah mengembalikan ruhku kepadaku, sehingga aku dapat membalas salamnya". (HR Abu Dawud, dari Abu Hurairah ra).

Rasulullah saw bersabda, "Tiada seorang lelaki pun yang melewati kuburan saudara mukmin yang dikenalnya, lantas ia menyampaikan salam kepadanya, melainkan saudaranya itu mengenalnya dan membalas salamnya". (HR Ibnu Abdil Barr, dari Ibnu Abbas ra).

Dr kesimpulan di atas apakah ada larangan untuk kita tidak mendoakan orang mati ?? Pa kah ada larangan rosulluloh untuk berziaroh kubur???

...wallohualam bisoaf.....

Walaikumusalam.wr.wb

Jumat, 25 November 2016

Mujahidin miyanmar mulai melakukan perlawanan

Pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi telah meminta kelompok bersenjata untuk bergabung dengan proses perdamaian setelah pertempuran babak baru telah menewaskan tujuh orang di dekat perbatasan utara negara itu dengan China.

Sedikitnya 12 orang tewas di tengah pertempuran yang sedang berlangsung di Negara bagian Shan sejak Ahad, ketika sebuah aliansi empat kelompok bersenjata dan mujahidin Muslim Rohingya menyerang pos-pos pemeriksaan militer Myanmar, kantor polisi dan Zona Perdagangan ke-105 Mil di kabupaten Muse, Anadolu Agency melaporkan Kamis (24/11/2016).

Lebih dari 33.000 orang di daerah tersebut melarikan diri ke kota Muse untuk menghindar dari pertempuran antara pasukan pemerintah dan kelompok bersenjata serta pejuang Islam, menurut pemerintah Kamis.

Kelompok-kelompok yang terlibat dalam bentrokan tidak mendaftar ke Perjanjian Gencatan Senjata Nasional (Nationwide Ceasefire Agreement-NCA) yang disponsori pemerintah tahun lalu.

Sejak kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1948, Myanmar (yang kemudian menjadi Burma) telah berlangsung lebih dari setengah abad konflik bersenjata, dengan kelompok bersenjata disana.


Media pemerintah mengutip pernyataan dari Kantor Penasihat Negara mengatakan bahwa pemerintah “menjaga pintu perdamaian tetap terbuka untuk menyambut semua pemangku kepentingan yang terkait untuk berpartisipasi dalam proses perdamaian”.

“Dalam rangka untuk segera mengakhiri konflik bersenjata di utara-timur Negara Bagian Shan, saya sangat mendesak kelompok-kelompok bersenjata untuk bergabung dengan proses perdamaian dengan menandatangani NCA,” kata Penasihat Negara Suu Kyi dalam pernyataannya.[www.tribunislam.com]

Kamis, 24 November 2016

LATAHZAN ALASAN UNTUK TIDAK MENGELUH



Ketika kita mengeluh : Ah mana mungkin?
Allah menjawab : “Jika AKU menghendaki, cukup Aku berkata
“Jadi”, maka jadilah (QS. Yasin ; 82)
Ketika kita mengeluh : Aduh, letih sekali..
Allah menjawab : “dan KAMI jadikan
tidurmu untuk istirahat.” (QS.An- Naba :9)
Ketika kita mengeluh : Berat sekali ya, gak sanggup rasanya :(
Allah menjawab : “AKU tidak membebani seseorang, melainkan
sesuai dgn kesanggupan.” (QS. Al-Baqarah : 286)
Ketika kita mengeluh : Stress nich, bingung?!
Allah menjawab : “Hanya dengan
mengingatKu hati akan menjadi tenang”. (QS. Ar-Ra’d :28)
Ketika kita mengeluh : Yah, ini mah bakal sia-sia..deh!
Allah menjawab :”Siapa yg mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarahpun, niscaya ia akan melihat balasannya”. (QS. Al- Zalzalah :7)
Ketika kita mengeluh : aku sendirian, gak ada seorangpun yang mau membantu...
Allah menjawab : “Berdoalah
(mintalah) kepadaKU, niscaya Aku kabulkan untukmu” (QS. Al-Mukmin :60)
Ketika kita mengeluh : Sedih sekali rasanya. :'((
Allah menjawab : “La Tahzan,..Innallaha Ma’ana.. Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah
beserta kita (QS. At-Taubah :40)
Ketika kita mengeluh : Ampun..susah banget ini kerjaan
Allah menjawab : “sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah;6-7). MasyaaAllah indahnya agama Islam, semuanya telah Allah sediakan solusinya hanya dalam Al-Quran.
Semoga renungan ini bermanfaat..
Silahkan LIKE & SHARE jika dirasa bermanfaat.....
cek juga IG instagram.com/loveislam

Memang ayah tidak menyusuimu tapi...


السلام عليكم ورحمة اللّٰه وبركاته
بسم اللّٰه الرحمن الرحيم

Memang Ayah Tak Menyusuimu, Tapi Setiap Tetesan Keringat Ayah Menjadi Air Susu Yang Membesarkanmu...


Pembaca yang budiman, terkadang kita menyangka ayah kita adalah sosok tegar dan tak pernah menangis. Sosok yang tidak pernah bersedih bahkan tak mungkin bersedih. Tapi apakah memang benar seperti itu?. Pembaca sholihah yang budiman, mari simak sebuah tulisan renungan yang akan membuat kita segera ingin memeluk ayah kita.

Memang Ayah Tak Menyusuimu, Tapi Setiap Tetesan Keringat Ayah Menjadi Air Susu Yang Membesarkanmu...

Mungkin ibu lebih kerap menelpon untuk menanyakan keadaanku setiap hari, tapi apakah aku tahu, bahwa sebenarnya ayahlah yang mengingatkan ibu untuk meneleponku?

Semasa kecil, ibukulah yang lebih sering menggendongku. Tapi apakah aku tau bahwa ketika ayah pulang bekerja dengan wajah yang letih ayahlah yang selalu menanyakan apa yang aku lakukan seharian, walau beliau tak bertanya langsung kepadaku karena saking letihnya mencari nafkah dan melihatku terlelap dalam tidur nyenyakku.

Saat aku sakit demam, ayah membentakku “Sudah diberitahu, Jangan minum es!” Lantas aku merengut menjauhi ayahku dan menangis didepan ibu.

Tapi apakah aku tahu bahwa ayahlah yang risau dengan keadaanku, sampai beliau hanya bisa menggigit bibir menahan kesakitanku.

Ketika aku remaja, aku meminta izin untuk keluar malam. Ayah dengan tegas berkata “Tidak boleh! ”Sadarkah aku, bahwa ayahku hanya ingin menjaga aku, beliau lebih tahu dunia luar, dibandingkan aku bahkan ibuku?

Karena bagi ayah, aku adalah sesuatu yang sangat berharga. Saat aku sudah dipercayai olehnya, ayah pun melonggarkan peraturannya.

Maka kadang aku melanggar kepercayaannya. Ayahlah yang setia menunggu aku diruang tamu dengan rasa sangat risau, bahkan sampai menyuruh ibu untuk mengontak beberapa temannya untuk menanyakan keadaanku, ”dimana, dan sedang apa aku diluar sana.”

Setelah aku dewasa, walau ibu yang mengantar aku ke sekolah untuk belajar, tapi tahukah aku, bahwa ayahlah yang berkata: Ibu, temanilah anakmu, aku pergi mencari nafkah dulu buat kita bersama.

Disaat aku merengek memerlukan ini – itu, untuk keperluan kuliahku, ayah hanya mengerutkan dahi, tanpa menolak, beliau memenuhinya, dan cuma berpikir, kemana aku harus mencari uang tambahan, padahal gajiku pas-pasan dan sudah tidak ada lagi tempat untuk meminjam.

Saat aku berjaya. Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan bertepuk tangan untukku. Ayahlah yang mengabari sanak saudara, ”anakku sekarang sukses.” Walau kadang aku cuma bisa membelikan baju koko itu pun cuma setahun sekali. Ayah akan tersenyum dengan bangga.

Dalam sujudnya ayah juga tidak kalah dengan doanya ibu, cuma bedanya ayah simpan doa itu dalam hatinya. Sampai ketika nanti aku menemukan jodohku, ayahku akan sangat berhati – hati mengizinkannya.

Dan akhirnya, saat ayah melihatku duduk diatas pelaminan bersama pasanganku, ayahpun tersenyum bahagia. Lantas pernahkah aku memergoki, bahwa ayah sempat pergi ke belakang dan menangis? Ayah menangis karena ayah sangat bahagia. Dan beliau pun berdoa, “Ya Alloh, tugasku telah selesai dengan baik. Bahagiakanlah putra putri kecilku yang manis bersama pasangannya.

”Pesan ibu ke anak untuk seorang Ayah”

Anakku..

Memang ayah tidak mengandungmu,
tapi darahnya mengalir di darahmu, namanya melekat dinamamu …
Memang ayah tak melahirkanmu,
Memang ayah tak menyusuimu,
tapi dari keringatnyalah setiap tetesan yang menjadi air susumu …

Nak..

Ayah memang tak menjagaimu setiap saat,
tapi tahukah kau dalam do’anya selalu ada namamu disebutnya …
Tangisan ayah mungkin tak pernah kau dengar karena dia ingin terlihat kuat agar kau tak ragu untuk berlindung di lengannya dan dadanya ketika kau merasa tak aman…

Pelukan ayahmu mungkin tak sehangat dan seerat bunda, karena kecintaanya dia takut tak sanggup melepaskanmu…
Dia ingin kau mandiri, agar ketika kami tiada kau sanggup menghadapi semua sendiri..

Bunda hanya ingin kau tahu nak..
bahwa…
Cinta ayah kepadamu sama besarnya dengan cinta bunda..
Anakku…
Jadi didirinya juga terdapat surga bagimu… Maka hormati dan sayangi ayahmu.



Silahkan LIKE & SHARE jika dirasa bermanfaat.....

Selasa, 22 November 2016

Kamu harus menikahi putri ku

Kamu Harus Menikahi Putriku!

DIA bernama Tsabit bin Ibrahim. Ketika itu ia sedang melakukan perjalanan di pinggiran kota Kufah. Matahari bersinar sangat terik. Cuaca panas membuat kerongkongan kering sehingga haus pun menyerang.

Tanpa sengaja ia melihat sebuah apel ranum berwarna merah menyala tergeletak di hadapannya. Tanpa pikir panjang, ia segera mengambil dan menikmati buah merah tersebut untuk menghalau dahaganya.

Belum habis buah itu di tangannya, ia segera tersadar bahwa apel itu bukan miliknya, “Astagfirullah, saya memakan yang bukan hakku. Siapakah pemilik apel ini?” gumam Tsabit.

Perasaan gelisah menghantuinya. Dicarinya pohon apel yang tumbuh di sekitar. Ia sangat berharap agar si pemilik apel mau merelakan apel yang ada di tangannya itu untuk dimakan.

Setelah menelusuri jalanan itu, akhirnya tidak jauh dari tempatnya sederet pohon apel dengan buahnya yang merekah kukuh berdiri di sebuah kebun yang luas. Tsabit melihat seorang lelaki di dalam kebun tersebut, “Mungkin dia pemilik apel ini,” pikir Tsabit.

Ia pun menghampirinya dan mengucapkan salam, lalu bertanya, “Apakah engkau pemilik kebun ini? Saya telah memakan apel Anda, untuk itu saya mohon maaf. Sudilah kiranya engkau merelakan apel ini agar halal untuk kumakan,” pinta Tsabit.

Lelaki tersebut berkata, “Saya bukan pemilik apel itu. Saya hanyalah seorang penjaga kebun di sini.”

“Baiklah, jika demikian di manakah rumah majikanmu?”

“Butuh waktu sehari semalam tiba di sana. Perjalanannya pun tidak mudah. Mengapa tidak kaumakan saja apel itu? Toh, ia tidak akan memedulikan sebuah apel itu karena hasil kebunnya begitu melimpah ruah!” usul si penjaga kebun.

“Sejauh apa pun rumahnya, saya harus tiba di sana meskipun harus melalui berbagai rintangan. Sebagian apel ini sudah saya telan, artinya di dalam tubuh ini terdapat makanan yang tidak halal bagiku karena belum meminta izin pemiliknya. Bukankah Rasulullah SAW. bersabda, ‘Setiap daging yang tumbuh dari makanan haram maka api nerakalah yang layak baginya’ ” tukas Tsabit tegas.

Melihat keteguhan hati Tsabit, si penjaga kebun akhirnya memberi tahu arah perjalanan menuju rumah majikannya. Tsabit berterima kasih atas kesediaan penjaga kebun memberi tahu alamat majikannya. Tanpa buang waktu, Tsabit segera beranjak menuju rumah pemilik apel.

Perjalanan mendaki dan berbatu ia lalui, sungai pun ia seberangi agar ia dapat bertemu dengan pemilik apel. Begitu risaunya ia akan peringatan dari Rasulullah SAW.

Setelah menempuh perjalanan berliku, tibalah ia di depan rumah pemilik apel. Ia mengetuk pintu rumah sambil mengucapkan salam. Seorang lelaki tua membukakan pintu untuknya.

“Wa’aiaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, ada apa anak muda?” tanyanya. Rupanya dialah pemilik kebun itu.

“Wahai Tuan, kedatangan saya ke sini untuk meminta keikhlasanmu atas buah apel yang terlanjur saya makan. Semoga engkau memaafkanku,” Tsabit menjelaskan apa yang merisaukannya kepada si pemilik kebun.

Pemilik kebun menyimak dengan saksama. Lalu ia berkata, “Saya tidak akan menghalalkannya kecuali dengan satu syarat!”

“Apakah itu, Tuan?”

“Kamu harus menikahi putriku dan saya akan menghalalkan apel itu untukmu.”

Tentu saja Tsabit terkejut dengan syarat itu. Haruskah ia menebus kesalahannya dengan pernikahan? Belum habis keterkejutan Tsabit, lelaki tua pemilik apel itu melanjutkan, “Putriku bisu, tuli, buta, dan lumpuh. Bagaimana? Apakah kamu menyanggupinya?”

Tsabit makin terkejut. Ia harus menikahi perempuan cacat yang akan mendampinginya seumur hidup. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain. Jika jalan ini dapat membuka pintu ampunan Allah SWT, ia harus menjalaninya dengan ikhlas. Tsabit pun menyanggupinya.

Pernikahan pun diselenggarakan. Mempelai wanita menanti di dalam rumah saat akad nikah berlangsung. Selesai dilakukan akad nikah, Tsabit dipersilakan oleh sang mertua untuk menemui putrinya yang kini telah sah menjadi istri Tsabit.

Ia mengetuk kamar yang ditunjuk sambil mengucapkan salam. Ketika Tsabit hendak membuka pintu kamar, terdengar suara wanita menjawab salamnya. Ia urung masuk ke dalam kamar itu karena yang ia tahu istrinya bisu, tuli, dan buta, “Oh, maaf, saya salah kamar!” ujar Tsabit.

“Kau tidak salah. Saya istrimu yang sah!” kata wanita di dalam kamar itu, “Silakan masuk, wahai suamiku!”

Tsabit benar-benar dibuat bingung dengan semua kejadian yang belakangan ini ia hadapi. Rasanya mustahil jika sang pemilik kebun berdusta tentang putrinya. Apa untungnya bagi dia?

Ketika Tsabit masih berdiri tertegun di depan kamar, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Yang membuka adalah seorang wanita cantik yang sehat wal afiat tanpa cacat seperti yang dikatakan mertuanya. Ia makin yakin bahwa ini bukanlah istrinya.

Tsabit bertanya kepada wanita yang berdiri di hadapannya itu, “Jika kau benar istriku, ayahmu berkata bahwa kau buta. Tetapi, mengapa kamu bisa melihat?”

“Ayahku benar, mataku buta karena tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah,” jawab putri pemilik kebun buah itu.

“Lalu, mengapa ayahmu mengatakan kamu tuli? Padahal, kau dapat mendengar salamku!” tanya Tsabit kembali.

“Itu juga benar, beliau tahu bahwa saya tidak pernah mau mendengar berita atau cerita yang tidak diridai Allah SWT,” jelas sang istri.

“Kau pun tidak bisu seperti yang dikatakan ayahmu? Apa artinya?”

“Saya bisu karena tidak pernah mengatakan dusta dan segala sesuatu yang tercela. Saya banyak menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah.”

“Terakhir, apa maksud ayahmu mengatakan kau lumpuh?” tanya Tsabit lagi.

“Itu karena saya tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang dibenci Allah.”

Betapa bahagianya Tsabit bahwa yang ia nikahi adalah sosok wanita salehah yang sempurna fisiknya dan cantik bak purnama di kegelapan malam. Dari hasil pernikahan mereka lahirlah ulama yang menjadi imam terbesar bagi umat Islam, yaitu Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit.

Dalam hal ini, Rasulullah saw pernah berpesan dalam sabdanya, “Berjanjilah kepadaku enam hal dan saya akan menjanjikan engkau surga. Bicaralah jujur (benar), tepati janjimu, penuhi kepercayaanmu, jaga kesucianmu, jangan melihat yang haram, dan hindarilah apa yang dilarang.” (HR Bukhari, Muslim, dan Abu Daud).

Kenapa jatuh dari kamar mandi setruk ? Secara ilmiah

Stroke di Kamar Mandi


Kenapa banyak orang jatuh dan kena stroke da lam kamar mandi...... kenapa tidak di tempat lain???
Untuk renungan.....kita selalu dengar orang jatuh di kamar mandi dan kena stroke dan sebagainya.
Kenapa kita jarang dengar jatuh ditempat tempat lain?
Pada waktu saya mengikuti kursus gaya hidup sehat, seorang penceramah professor di universitas di malaysia, UITM yang juga terlibat dengan kegiatan olah raga negara menasihatkan supaya pada waktu mandi jangan basahkan kepala dulu, basahkan bahagian badan.
Ini karena apabila kepala basah dan dingin, darah semua akan mengalir ke kepala untuk memanaskan kepala, logika 'warm blooded human' dan jika ada saluran darah sempit, maka dapat terjadi kondisi saluran darah pecah. Ini kerapkali berlaku di kamar mandi.
Berikut cara mandi yang benar :
1. Pertama siramkan air di telapak kaki.
2. Kemudian dilanjutkan dengan segayung di betis.
3. Segayung di paha.
4. Segayung di perut.
5. Segayung di bahu.
6. Berhentilah sejenak 5-10 detik
👉 Kita akan merasakan seperti uap/ angin yang keluar dari ubun-ubun bahkan meremang, setelah itu lanjutkan dengan mandi seperti biasa.
✅Hikmahnya: Seperti pada gelas yang diisi air panas kemudian kita isi dengan air dingin. Apa yang terjadi?
Gelas akan retak !!!
🚿 Jika tubuh kita .... apa yang retak?
Suhu tubuh kita cenderung panas dan air itu dingin, maka yang terjadi jika kita mandi langsung menyiram pada badan atau kepala, angin yang harusnya keluar jadi terperangkap dan dapat membawa maut karena pecahnya pembuluh darah.
🚿 Maka sebab itu kita sering menjumpai orang jatuh di kamar mandi tiba-tiba kena 'stroke'. Boleh jadi kita sering masuk angin kerana cara mandi kita yang salah. Boleh jadi kita sering migrain kerana cara mandi yang salah.
🚿 Cara mandi ini baik bagi semua peringkat umur terutama yang memunyai sakit diabetes, darah tinggi, kolesterol dan migrain/ sakit kepala sebelah.
Silakan dishare untuk manfaat bersama..

Senin, 21 November 2016

Ngopi bareng gus nuril

Yang tau mmpunyai ilmu akan lebih banyak diam


Minggu, 20 November 2016

RISALAH NEWS.. HATI HATI HABIB RIZIK SHIHAB



 News, Opini, Politik, Zionisme
Hati-Hati Riziq Shihab, Pembelaan Anda Terhadap Agama Malah Terjebak Dalam Konspirasi Zionis, Baca Ini Agar anda Tidak Salah Langkah!
 Admin  November 20, 2016  No Comments
 TOPIKTREND.COM, Apapun peristiwa dan kekacauan yang terjadi di belahan bumi ini tak lepas dari agenda zionis, karena mereka telah merancangnya sejak dulu, agenda mereka sudah banyak yang terjadi, mereka dengan mudahnya mengacaukan sebuah negara dengan perang saudara, tak lain tujuan mereka adalah untuk melumpuhkan bangsa-bangsa tersebut sehingga jatuh dalam kendali mereka.

Agenda mereka ini tertuang dalam protocol zionis yang mereka rencanakan sejak dulu, yang paling utama adalah agenda mengacaukan seluruh dunia dan memanfaatkan kekacauan untuk melancarkan aksi mereka menguasai dunia.

Kali ini saya akan membongkar rahasia zionis tertuang dalam 25 protocol zionis.

Isi Protokol Zionis

Jika sekarang Protokolat Zionis yang dikenal hanya berjumlah 24 butir, maka Protokolat Zion yang berasal dari Rotshchild sesungguhnya berisi 25 pasal. Inilah pasal-pasalnya:

1. Manusia itu lebih banyak cenderung pada kejahatan ketimbang kebaikan. Sebab itu, Konspirasi harus mewujudkan ‘hasrat alami’ manusia ini. Hal ini akan diterapkan pada sistem pemerintahan dan kekuasaan. Bukankah pada masa dahulu manusia tunduk kepada penguasa tanpa pernah mengeluarkan kritik atau pembangkangan? Undang-undang hanyalah alat untuk membatasi rakyat, bukan untuk penguasa.

2. Kebebasan politik sesungguhnya utopis. Walau begitu, Konspirasi harus mempropagandakan ini ke tengah rakyat. Jika hal itu sudah dimakan rakyat, maka rakyat akan mudah membuang segala hak dan fasilitas yang telah didapatinya dari penguasa guna memperjuangkan idealisme yang utopis itu. Saat itulah, konspirasi bisa merebut hak dan fasilitas mereka.

3. Kekuatan uang selalu bisa mengalahkan segalanya. Agama yang bisa menguasai rakyat pada masa dahulu, kini mulai digulung dengan kampanye kebebasan. Namun rakyat banyak tidak tahu harus melakukan apa dengan kebebasan itu. Inilah tugas konspirasi untuk mengisinya demi kekuasaan, dengan kekuatan uang.

4. Demi tujuan, segala cara boleh dilakukan. Siapa pun yang ingin berkuasa, dia mestilah meraihnya dengan licik, pemerasan, dan pembalikkan opini. Keluhuran budi, etika, moral, dan sebagainya adalah keburukan dalam dunia politik.

5. Kebenaran adalah kekuatan konspirasi. Dengan kekuatan, segala yang diinginkan akan terlaksana.

6. Bagi kita yang hendak menaklukkan dunia secara finansial, kita harus tetap menjaga kerahasiaan. Suatu saat, kekuatan konspirasi akan mencapai tingkat di mana tidak ada kekuatan lain yang berani untuk menghalangi atau menghancurkannya. Setiap kecerobohan dari dalam, akan merusak program besar yang telah ditulis berabad-abad oleh para pendeta Yahudi.

7. Simpati rakyat harus diambil agar mereka bisa dimanfaatkan untuk kepentingan konspirasi. Massa rakyat adalah buta dan mudah dipengaruhi. Penguasa tidak akan bisa menggiring rakyat kecuali ia berlaku sebagai diktator. Inilah satu-satunya jalan.

8. Beberapa sarana untuk mencapai tujuan adalah: Minuman keras, narkotika, perusakan moral, seks, suap, dan sebagainya. Hal ini sangat penting untuk menghancurkan norma-norma kesusilaan masyarakat. Untuk itu, Konspirasi harus merekrut dan mendidik tenaga-tenaga muda untuk dijadikan sarana pencapaian tujuan tersebut.

9. Konspirasi akan menyalakan api peperangan secara terselubung. Bermain di kedua belah pihak. Sehingga Konspirasi akan memperoleh manfaat besar tetapi tetap aman dan efisien. Rakyat akan dilanda kecemasan yang mempermudah bagi konspirasi untuk menguasainya.

10. Konspirasi sengaja memproduksi slogan agar menjadi ‘tuhan’ bagi rakyat. Setelah itu, Konspirasi akan membangun sebuah pemerintahan yang sesuai dengan Konspirasi.

11. Perang yang dikobarkan konspirasi secara diam-diam harus menyeret negara tetangga agar mereka terjebak utang. Konspirasi akan memetik keuntungan dari kondisi ini.

12. Pemerintahan bentukan Konspirasi harus diisi dengan orang-orang yang tunduk pada keinginan konspirasi. Tidak bisa lain.

13. Dengan emas, konspirasi akan menguasai opini dunia. Satu orang Yahudi yang menjadi korban sama dengan seribu orang non-Yahudi (Gentiles/Ghoyim) sebagai balasannya.

14. Setelah konspirasi berhasil merebut kekuasaan, maka pemerintahan baru yang dibentuk harus membasmi rezim lama yang dianggap bertanggungjawab atas terjadinya semua kekacauan ini. Hal tersebut akan menjadikan rakyat begitu percaya kepada konspirasi bahwa pemerintahan yang baru adalah pelindung dan pahlawan dimata mereka.

15. Krisis ekonomi yang dibuat akan memberikan hak baru kepada konspirasi, yaitu hak pemilik modal dalam penentuan arah kekuasaan. Ini akan menjadi kekuasaan turunan.

16. Penyusupan ke dalam jantung Freemason Eropa agar bisa mengefektifkan dan mengefisienkannya. Pembentukan Bluemasonry akan bisa dijadikan alat bagi konspirasi untuk memuluskan tujuannya.

17. Konspirasi akan membakar semangat rakyat hingga ke tingkat histeria. Saat itu rakyat akan menghancurkan apa saja yang kita mau, termasuk hukum dan agama. Kita akan mudah menghapus nama Tuhan dan susila dari kehidupan.

18. Perang jalanan harus ditimbulkan untuk membuat massa panik. Konspirasi akan mengambil keuntungan dari situasi itu.

19. Konspirasi akan menciptakan diplomat-diplomatnya untuk berfungsi setelah perang usai. Mereka akan menjadi penasehat politik, ekonomi, dan keuangan bagi rezim baru dan juga di tingkat internasional. Dengan demikian, konspirasi bisa semakin menancapkan kukunya dari balik layar.

20. Monopoli kegiatan perekonomian raksasa dengan dukungan modal yang dimiliki konspirasi adalah syarat utama untuk menundukkan dunia, hingga tidak ada satu kekutan non-Yahudi pun yang bisa menandinginya. Dengan demikian, kita bisa bebas memainkan krisis suatu negeri.

21. Penguasaan kekayaan alam negeri-negeri non-Yahudi mutlak dilakukan.

22. Meletuskan perang dan memberinya—menjual—senjata yang paling mematikan akan mempercepat penguasaan suatu negeri, yang tinggal dihuni oleh fakir miskin.

23. Satu rezim terselubung akan muncul setelah konspirasi berhasil melaksanakan programnya.

24. Pemuda harus dikuasai dan menjadikan mereka sebagai budak-budak konspirasi dengan jalan penyebarluasan dekadensi moral dan paham yang menyesatkan.

25. Konspirasi akan menyalahgunakan undang-undang yang ada pada suatu negara hingga negara tersebut hancur karenanya.(Rz)

DOA-DOA PARA NABI DAN ROSUL YANG DIABADIKAN DALAM AL-QUR'AN



Doa Nabi Adam A.S

رَ‌بَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ‌ لَنَا وَتَرْ‌حَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِ‌ينَ

Artinya:

Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi (QS. Al A’raf : 23).


Doa Nabi Nuh A.S

رَ‌بِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ‌ لِي وَتَرْ‌حَمْنِي أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِ‌ينَ

Artinya:

Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi (QS. Huud : 47).


Doa Nabi Ibrahim A.S

رَ‌بِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِ‌ينَ
وَاجْعَلْنِي مِن وَرَ‌ثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ

Artinya:

Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih. Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan (QS. Asy Syu’ara : 83-85)


Doa Nabi Sulaiman A.S

رَ‌بِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ‌ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْ‌ضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَ‌حْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

Artinya:

Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih (QS. An Naml : 19)


Doa Nabi Muhammad SAW

رَ‌بَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَ‌ةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya:

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Al Baqarah : 201)



Silahkan LIKE & SHARE jika dirasa bermanfaat.....


cek juga IG instagram.com/loveislam.id
 

About

trimakasih atas kunjungan anda semoga bermanfaat

Text

Risalah sufy Copyright © 2009 Template is Designed by Islamic Wallpers